The favehotel Denpasar, Hotel Nyaman di Pusat Bisnis


Hotel baru ini mungkin bisa menjadi pilihan yang menyenangkan bagi kamu yang tengah berlibur atau berbisnis di Bali. Bisa juga untuk reuni atau pertemuan keluarga. Terletak di pusat kawasan bisnis dan pertokoan, desain dan style hotel ini membuat setiap tamu yang dating merasa nyaman dan tentram.

Ukurannya yang besar dan kebersihannya yang terjaga, membuat setiap kamar terasa nyaman untuk dihuni. Apalagi di dalam kamar-kamar tersebut dilengkapi dengan beragam fasilitas yang memanjakan dan ramah lingkungan seperti tempat tidur berkualitas (peraih Serta Award), televisi LG LCD, pengatur suhu dengan remote controll, kamar mandi yang mewah dengan standing shower, serta koneksi free WiFi untuk kemudahan berinternet. Untuk melengkapi perasaan nyamanmu, setiap kamar menggunakan security key card locking system.

Untuk pembayaran, selain cash atau dengan kartu kredit, bekerjasama dengan Telkomsel, The favehotel Denpasar menyediakan layanan T-Cash. T-Cash adalah sistem pembayaran digital menggunakan nomor kartu ponsel. Melalui T-Cash, pelanggan Telkomsel dapat melakukan transaksi seperti pembelian barang, cek saldo, pembayaran jasa serta mengambil uang tunai.

Ini merupakan langkah maju dalam industri wisata. Dengan T-Cash, para tamu The favehotel Denpasar yang menjadi pelanggan Telkomsel dapat melakukan pembayaran dengan lebih praktis dan aman. Yang menarik lagi, hanya dengan menunjukan nomor Telkomsel-nya, seluruh pelanggan Telkomsel yang menginap di Superior Room Fave Hotel akan mendapatkan harga khusus Rp 368.000,- nett/malam dan Rp 325.000,- nett/malam (room only) serta potongan harga 25 persen untuk pembelian F&B di Haaven Coffee hingga periode 30 Juni 2010.

Jika tertarik menginap di sana, datang saja langsung ke Jl.Teuku Umar no.175-179 Denpasar, atau kontak via telepon (0361) 8422299, e-mail: Denpasarinfo@TheFaveHotels.com (abe/jjb)



Wisata Bali

Denpasar Festival, Melepas Matahari 2009


Melepas tahun 2009 dan menyambut tahun baru 2010, Kota Denpasar menyelanggarakan sebuah event besar bertajuk “Denpasar Festival’09”. Acara yang sebelumnya dikenal dengan nama “Gajah Mada Town Festival” ini merupakan sebuah perayaan akhir tahun yang terbuka untuk umum. Di dalamnya digelar aneka ragam kekayaan ekspresi dan kreatifitas yang tumbuh di Kota Denpasar. Ekspresi tersebut terpancar dalam bentuk pameran, seminar dan pentas seni, dan hiburan.

Denpasar Festival ini merupakan pengejawantahan dari semangat menjadikan Denpasar sebagai sebuah Kota Kreatif Berbasis Budaya Unggulan. Tahun ini, tema yang diangkat adalah adalah “Embracing Tomorrow” atau “Menyongsong Masa Depan Gemilang”. Tema tersebut merupakan lanjutan dari tema festival sebelumnya “Inspirational Memories”, menyerukan sebuah keyakinan bahwa keagungan masa lalu merupakan modal dasar untuk meraih masa depan yang gemilang.

Seniman yang tampil pada festival ini antara lain Made Budhiana (pelukis), A.A. Yoka Sara (desainer arsitektural), I Wayan Gede Yudana (musisi, komposer world music), Jango Pramartha (kartunis), Arsawan (desainer kain), Kadek Suardana (koreografer).

Puncak acara festival akhir tahun ini adalah acara “Melepas Matahari 2009” yang akan delakukan oleh semua komponen seniman dan masyarakat Denpasar sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Waktu yang telah mendewasakan kota Denpasar untuk menyongsong masa depan yang cemerlang.

Bagi kamu yang kebetulan berlibur di Bali, nikmatilah berbagai acara menarik yang digelar pada event ini.

Untuk mengetahui program acara, klik Jadwal Denpasar Festival’09.



Wisata Bali

“Apa Ini, Apa Itu” , Pertanyaan 27 Seniman Jelang 2010


Tajuk happening art ini seperti judul buku pengetahuan anak-anak yang menunjukkan berbagai rahasia alam sekitar. Tampaknya memang begitulah niat 27 seniman dari enam negara yang tergabung dalam acara ini. Mereka menjadikan dirinya sebagai kanak-kanak yang takjub pada rahasia-rahasia kehidupan yang mereka jalani; tentang ketakmengertian mereka mengenai banyak hal pada tahun 2009 dan tentang ketidaktahuan yang menggantung di benak mereka memasuki tahun 2010. Dan, semua perasaan takjub itu mereka ekspresikan dalam pameran instalasi dan happening art di Pantai Lepang Klungkung, Bali, 29-31 Desember 2009.

Namun, menurut Wayan Sujana Suklu, Ketua Panitia perhelatan ini, acara lebih dari sakadar itu. Selain mengekspresikan ketakmengertian dan ketidaktahuan, acara tutup tahun ini juga bermaksud hendak mengajak masyarakat berbaur dan berekspresi. Diharapkan dari enteraksi tersebut akan terbuka semacam jalan pencerahan di hati masing-masing sehingga memudahkan menemukan keindahan hakiki pada langkah-langkah di tahun berikutnya.

“Dalam tiga hari ini kami mengajak masyarakat untuk merespons berbagai karya seni kontemporer yang disajikan selama 72 jam nonstop,” paparnya.

Untuk itu, panitia juga menyediakan 100 gendang jembe untuk ditabuh secara bergantian oleh pengunjung yang hadir dalam rangkaian menyambut pergantian tahun. Hal itu akan menjadi peristiwa “liar” yang akan meningkahi berbagai suguhan kesenian tari, musik, instalasi, fotografi, dan lainnya.

Art Director Daniel LeClaire asal Amerika Serikat (AS) juga memberikan ruang bagi seniman untuk melakukan proses kreatif di acara ini dan seluruh kegiatan ini akan didokumentasikan dalam bentuk film, buku, dan pameran fotografi tahun depan.

Ke-27 peserta itu adalah kolektor asal Jerman Adi Bachmann yang akan memamerkan reproduksi karya seni rupa kelas dunia, yakni Agung Gunawan, Cedil, Charlie Crooijmans (Belanda), Daniel Kho, Daniel Zacharias, Danuta Franzen (Polandia), Deasylinada da Ary, Eko Prawoto, Gusti Sudibia, I Gede Made Surya Darma, IG Nengah Hari Mahardika, Joko Dwi Avianto, Made Djirna, Ni Kadek Diah Kristin Natalia (Bali), dan Mireki Jasmiene Okubo (Jepang).

Seniman Nyoman Erawan akan mengadakan pertunjukan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Nyoman Sujana Kenyem yang terakhir bergulat dengan bambu dan daun sudah menyiapkan karya di pantai. Ada pula penari Nyoman Sura, Putu Satria Kusuma, Shoosie Sulaiman (Malaysia), Tisna Sanjaya, Wawan Setiawan Husin, Wayan Pacet, Wayan Sudiarta, Wayan Sujana Suklu, dan Welldo Wnophringgo.

Program:

Tuesday December 29, Vernissage on the Beach
16:00 Welcoming Speech by Daniel LeClaire, Art Director Djagad Art House
16:10 Welcoming Speech by Bpk Wayan Candra, Regent of Klungkung
16:20 Festival Opening by Klunkung sand miner Bpk I Nyoman Artawan
16.30 Contemporary Bale Ganjur Orchestra Procession from the Beach to Kubu
17.30 Tisna Sanjaya will unearth Artworks buried during the Sanur Village Festival and bring them to Kubu
18.00 Performance, 53,5 Hours of Watching You, Weldo Wnophringgo will enter Kubu house for the duration of the festival (Conceptualized by Daniel Kho and Suklu)
19.00 Contemporary Bale Ganjur Orchestra Procession from Kubu to the Beach
20.30 Performance Srimimpi in Wonderland, Agung Gunawan and Deasylinada Ary at the Beach
21.30 Contemporary Music Performance,Wayan Pacet at the Beach
22.30 Contemporary Music Performance, Cedil at the Beach
22.30 Open Performance ‘Silence’ at Kubu and the Beach

Wednesday December 30, Midissage at Kubu and the Beach
00.00-24.00 Performance Watching You,Weldo Wnophringgo at Kubu
01.00 Performance, Wayan Sudiarta at Kubu
02.00 Performance, Wawan Setiawan Husin responds to Weldo Wnophringgo at Kubu
03.00–06.00 Open Performance ‘Tranquil’ at the Beach
06.00 Performance Kokok Ayam, Wayan Sudiarta at the Beach
07.00 Performace of mutual response by Agung Gunawan,Wawan S Husin and Wayan Sudiarta at the Beach
08.00 Diah and Jasmiene Okubo respond to Suklu’s Artwork at Kubu
09.00-15.00 Open Performance at Kubu
14.00 Performance Ini Ngremo, Deasylinada Ary at the Beach
14.30 Performance, Nyoman Sure at the Beach
15.00 Performance, Putu Satria Kusuma at the Beach
16.00 Performance, I Gede Surya Darma at the Beach
17.00 Diah and Jasmiene Okubo respond to Eko Porwoto’s Artwork at the Beach
18.30 Performance Symphony Senja, Agung Gunawan at the Beach
19.00 Music Peformance, Contemporary Gentong, Wayan Pacet at the Beach
20.00 Light Painting Performance, Daniel Zacharias at the Beach
20.30 Performance Nyoman Sura at the Beach
21.00 Music Performance, Ngurah Rai Mahardika at the Beach
22.00 Performance, Putu Satria Kusuma at the Beach
22.30 Contemporary Music Performance, Cedil at the Beach
22.30-24.00 Open Performance and Music at the Beach

Thursday December 31, Finissage at the Beach
00.00-23.30 Performance Watching You,Weldo Wnophringgo at Kubu
01.00-05.00 Open Performance ‘Stillness’ at Kubu
06.00 Performance Kokok Ayam, Wayan Sudiarta at Kubu
07.00 Performance ‘Words’, Putu Satria Kesuma at Kubu
08.00 Performance Ini Ngremo,Deasylinada Ary at Kubu
09.00-15.00 Open Performance at the Beach
10.00-18.00 Open Installation using Tires at the Beach
15.00 Performance ‘Words’,Putu Satria Kesuma at the Beach
17.00 Performance Sympony Senja,Agung Gunawan at the Beach
17.30 Contemporary Music Performance, Cedil at the Beach
18.00 Performance,Wawan Setiawan Husin at the Beach
19.00 Contempory Bale Ganjur Orchestra at the Beach
20.00 Performance Srimimpi in Wonderland,Agung Gunawan and Daniel Kho at the Beach
21.00 Music Performance, Ngurah Rai Mahardika at the Beach
21.20 Performance Melangkoli, Agung Gunawan at the Beach
21.30-23.30 Music Performance 100 Jembe at the Beach
23:30 Performance Tisna Sanjaya Funeral March of Artworks accompanied by Weldo Wnophringgo leaving the Kubu house and the Bale Ganjur Orchestra from Kubu to the Beach
24.00 Performance Nyoman Erawan responds to Tisna Sanjaya’s Artwork at the Beach
00.30-Onwards Open Performance and Music at the Beach

Djagad Art House – Team
Daniel Kho (Initiator, Conceptor, Founder)
Daniel LeClaire (Art Director)
Daniel Zacharias (Founder)
Wayan Sujana Suklu (Founder)
Wayan Sudiarta (Founder)



Wisata Bali

Pura Meduwe Karang


Secara harfiah, kata “Pura Meduwe Karang” dapat diterjemahkan dengan “Pura Pemilik Lahan”. Pura ini terletak di Desa Kubutambahan, sekitar 12 kilometer dari kota Singaraja, lebih kurang satu kilometer dari pertigaan Singaraja, Kubutambahan dan Kintamani. Sesuai dengan namanya, pura ini merupakan tempat memohon kesuburan agar tanaman di tegalan berhasil baik. Lahan di kawasan Kubutambahan memang didominasi oleh tegalan untuk bertanam kelapa, kopi, atau jeruk. Tanaman semusim yang biasa dibudidayakan di sana adalah ubi kayu dan jagung.

Tata letak dan arsitektural pura ini khas Bali Utara. Gugusan tangga, areal yang luas dan lapang, detil ornamen serta deretan patung-patungnya, sulit ditemukan pada pura-pura di Bali Selatan. Jumlah patung di pura ini tak kurang dari 34 buah. Semuanya merupakan karakter yang diambil epos Ramayana.

Pura ini terdiri dari tiga bagian yang semakin ke dalam semakin meninggi. Areal teringgi merupakan areal tersuci di mana terdapat sebuah bangunan padmasana dari padas yang diapit oleh sepasang bangunan beratap limas. Di situlah persembahyangan di lakukan. Jika diperhatikan dari kejauhan, susunan bati padas dari dasar hingga puncak padmasana, tampak seperti susunan piramid.

Ada lagi hal lain yang unik di pura ini. Pada dindning sebelah utara terdapat ukiran setinggi satu meter yang melukiskan seorang pegawai Pemerintah Belanda tengah mengendarai sepeda dari tumbuhan. Beberapa catatan mengatakan bahwa ukiran ini merupakan hasil reproduksi dari ukiran yang dibuat pada tahun 1904 yang sempat hancur akibat gempa bumi. Konon pengendara sepeda dalam ukiran tersebut adalah W.O.J. Nieuwenkamp, pelukis Belanda yang terkenal pada saat itu yang berkeliling Bali dengan mengendarai sepeda pada awal tahun 1900 an. Nieuwenkamp selalu melukiskan tempat-tempat yang sempat ia kunjungi. Pada saat restorasi, bentuk sepeda diubah menjadi sepeda dengan roda berbentuk bunga teratai, Nieuwenkamp diubah menjadi mengenakan sarung dan ditambahkan dengan pattern tumbuhan dan bunga-bunga sebagai latar belakang. Di antara kaki dan roda sepeda terdapat sosok anjing dan tikus, kumis tebal Nieuwenkamp dan inisialnya tidak terdapat lagi.

Ingin mengunjungi pura ini? Karena kawasan bali Utara terletak cukup jauh dari Kuta, agar waktumu efektif buatlah pejalanan satu hari atau lebih untuk mengunjungi Bali Utara. (abe/”Bali Handbook” Bill Dalton)



Wisata Bali

Puting Beliung Hantam Bali Utara, Bali Selatan diimbau Waspada


Hujan deras disertai badai puting beliung menghantam kabupeten Buleleng Selasa (5/1) lalu. Sore itu, pukul 18.30 wita, amukan badai itu mengobrak-abrik kabupaten yang terletak di bagian utara Pulau Bali itu. Kantor Bupati Buleleng di Jalan Pahlawan No 1 Singaraja, pun tidak luput amukannya. Sebuah bangunan yang berada di parkir timur kantor tersebut hancur tertimpa pohon yang tercerabut dan tumbang. Kerusakan lain terjadi di Desa Tegalinggah, Kecamatan Sukasada. Badai yang bergerak dari laut menjalar ke arah barat melintasi daya desa itu dan menghancurkan 12 rumah.

Cuaca buruk itu juga mempengaruhi pelabuhan penyeberangan Gilimanuk sejak Selasa (5/1) lalu. Hari itu aktivitas pelayaran di selat Bali sempat terhenti sekitar setengah jam akibat hujan deras disertai angin kencang. Cuaca buruk membuat jarak pandang sangat terbatas. Selain itu, kuatnya hembusan angin juga bisa menyeret kapal yang sedang berlayar.

Menurut data di Balai Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) Denpasar, hujan deras yang menganggu jarak pandang nahkoda kapal sewaktu-waktu masih akan terjadi di selat Bali. Begitupula aging kencang dengan kecepatan 0,3 sampai 18 knot dan gelombang dengan ketinggian 0,5 sampai 1,5 meter. Menurut perkiraan, pola angin rata – rata wilayah Bali Baratdaya – Barat 05 – 26 km/jam. Suhu muka laut di perairan selatan dan utara Jawa berkisar 30°C.

Pantauan terakhir Citra Satelit Cuaca menunjukkan sebaran awan masih dominan di sekitar wilayah equator yang berpotensi hujan sedang – lebat umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian barat. Cuaca di Jatim, Bali, NTB dan NTT umumnya hujan ringan – lebat.

Meski kondisi cuaca tiga hari terakhir di Bali berawan dan hujan ringan hingga sedang, adanya aktivitas konvektif atmosfer berskala lokal dan suhu udara yang cukup panas dapat menyebabkan pertumbuhan awan – awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Hal ini perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang disertai badai petir dan angin kencang secara tiba-tiba yang bersifat lokal yang tidak terlalu lama terutama di wilayah Bali bagian tengah dan selatan, umumnya pada malam hingga dini hari.



Wisata Bali

Musim Hujan, Tarif Diving Turun 10 Persen


Hujan yang mengguyur hampir seluruh wilayah Bali membawa pengaruh bagi usaha diving dan snorkeling di beberapa dive spot di sisi timur pulau ini. Beberapa wahana wisata bawah laut di Kabupaten Karangasem seperti pantai Amed, Jemeluk, Bunutan, Tulamben dan beberapa pantai lainnya mengalami kelesuan. Untuk merangsang minat klien, beberapa penyelenggara wahana tersebut memberi potongan sebesar sepuluh persen dari tarif biasanya.

Memang, hujan deras yang kerap turun secara tiba-tiba membuat para peminat olahraga air urung menjalankan niatnya. Akibatnya, tidak hanya pengusaha wahana air yang merugi akibat situasi ini, para nelayan yang kesehariannya turut menggantungkan diri pada bisnis ini pun harus merelakan penghasilannya menyurut.

I Gede Suta, seorang dive master di pantai Amed, menuturkan bahwa setiap kali musim hujan rata-rata perusahaan wahana bawah air mengalami penurunan order sekitar 75 persen. Soalnya, pada musim hujan, perairan pantai menjadi keruh oleh aliran lumpur dari sungai-sungai.

“Ini menyebabkan jarak pandang di air menjadi pendek, dan pemandangan di bawah air menjadi tidak menarik” paparnya.

Menurut Suta, aktivitas wisata diving dan snorkling yang paling ramai di kawasan ini adalah pada bulan Mei sampai Juni. Pada bulan-bulan tersebut, dalam sehari bisa 40 orang tamu yang melakukan diving yang berbiaya antara 35 hingga 45 dollar Amerika per orang. (rul/jjb)



Wisata Bali

Rujak Kuah Pindang Dadong Ayu


Oleh: Maria Ekaristi & Agung Bawantara

Pernah mendengar menu rujak kuah pindang, bukan? Itu lho, rujak berbumbu terasi, garam dan cabai, lalu dikuahi dengan kaldu ikan. Di Bali, banyak warung yang menyediakan jenis kudapan ini. Satu di antaranya adalah “Warung Dadong Ayu” di Jalan Merdeka, Renon, Denpasar. Letaknya persis di pojok perempatan berseberangan dengan kantor Telkomsel. Warung ini sederhana saja, namun rasa rujaknya istimewa. Komposisi bumbunya terasa pas dengan buah dan kuahnya sehingga adonan menjadi begitu segar dan menerbitkan selera.

Layaknya warung rujak tradisonal di Bali, selain rujak kuah pindang di warung ini juga tersedia rujak cuka dan rujak gula. Keduanya sama segar dan nikmatnya. Tak ketinggalan juga hidangan tipat bumbu plecing, plecing kangkung dan tipat cantok. Harga per porsinya rata-rata Rp 3 ribu saja.

Dan, yang penting, meskipun tempat dan bangunannya sederhana, penyajian makanan di warung ini cukup hygenis. Mau coba? Datang saja. Tapi, jangan terlalu sore. Soalnya, warung tradisonal ini cukup laris. Begitu dagangan yang disiapkan pada pagi hari habis (biasanya sekitar pukul 14), maka warung pun langsung tutup. 


Update Info:
Sejak 2012 lokasi warung  Dadong Ayu berpindah lokasi sekitar 200 meter ke arah utara. Sekarang warung ini berlokasi di pojok pertigaan, berseberangan dengan Pura Dalem Tanjung Bungkak.***





Wisata Bali

Angin Barat, Sampah Menumpuk di Pantai Kuta


Telah hampir dua pekan berselang, timbunan sampah “kiriman” yang mengotori tepian Pantai Kuta, masih saja terlihat. Setiap pagi, ribuan kubik sampah berjejal di bibir pantai. Sampah tersebut dibawa oleh arus air laut akibat dampak embusan angin barat sejak bulan Desember lalu. Setiap hari 33 Satgas Pantai Kuta dibantu para pedagang telah bekerja ekstra keras melakukan pembersihan tumpukan sampah tersebut. Namun, setiap pagi, selalu saja ada tumpukan sampah berupa botol air mineral, kemasan rokok, plastik, ranting, potongan kayu, akar pohon, batang pohon pisang, dan kayu gelondongan, berjubel di situ. Pembersihan dilakukan sejak pagi hingga sore, sebanyak enam kali setiap harinya.

“Untuk mempermudah pekerjaan, selain menggunakan peralatan sederhana, kami juga mengerahkan tiga unit alat berat (loader) dan satu unit truk sampah,” papar I Gusti Ngurah Tresna, Ketua Unit Satgas Pantai Kuta.

Menurut Tresna, kejadian semacam ini selalu berulang setiap datang angin barat yang biasanya berembus sejak pertengahan Desember hingga Pebruari. Tentu saja kondisi ini sangat menggangu kenyamanan berwisata di pantai tersebut. Selain tak sedap dipandang mata, sampah tersebut juga mengembuskan bau amis yang menyengat .

Terganggunya aktivitas pelancong oleh sampah tersebut membuat pemasukan para pedagang di sepanjang pantai tersebut merosot drastis. Herman, seorang pedagang bakso yang pada situasi normal biasa menangguk rejeki sebesar Rp. 175 ribu hingga Rp 200 ribu per hari, kini melorot hingga kurang dari sepertiganya.

“Tamu-tamu jadi malas berjemur di pantai. Jadi ndak ada yang belanja,” keluh pemuda asal Lombok yang mengatakan bahwa dirinya baru memperoleh pendapatan sebesar Rp 45 ribu, padahal hari sudah beranjak siang.

Yang mengherankan bagi Tresna dan Herman, kenapa Pemerintah selalu terlambat dalam mengantisipasi kondisi tahunan ini. (abe/jjb)



Wisata Bali

Rawan Pembobolan, Hati-hati Bertransaksi di ATM


Grace Simon, penyanyi top era 1970-an, langsung menarik seluruh dana yang tersisa di bank begitu rekeningnya ketahuan kebobolan sebesar Rp 15 juta. Ia tak mau dana pribadi maupun dana panti asuhan miliknya yang masih tersimpan di bank ikut terkuras pula. Grace, yang kini mengelola panti asuhan Baith-El di Jalan Jempiring 20 Semarapura itu adalah satu di antara 19 korban sindikat pembobol rekening via anjungan tunai mandiri (ATM) di Bali.

Itu yang dilakukan Grace, lalu bagaimana dengan korban lainnya? Tak banyak korban yang mau buka suara soal ini. Yang pasti, menurut Kapoltabes Denpasar Kombes Pol. Gede Alit Widana, dari seluruh korban yang melapor, total dana yang telah tersedot penjahat mencapai lebih dari Rp500 juta. Untuk kepentingan pengungkapan, Alit Widana mengatakan pihaknya telah memeriksa 20 orang saksi serta melakukan koordinasi dengan pihak bank.

“Berdasarkan hasil peyelidikan sementara, sistem yang digunakan untuk membobol kartu ATM para nasabah, diduga dengan memasang chips di mesin ATM untuk merekam data dari kartu dan juga adanya pemasangan kamera tersembunyi untuk mengetahui digit nomor PIN milik para nasabah,” paparnya kepada pers, Kamis (21/1).

Rupanya, pembobolan ATM ini bukan hanya terjadi di Bali. Melainkan terjaid juga Jakarta. Kamis (21/1) TEMPO Interaktif melaporkan bahwa Markas Besar Kepolisian mulai mempelajari keterlibatan mafia Rusia dalam kasus pembobolan ATM ini.
“Kan sebagian pelaku sudah keluar (dari penjara). Kami pelajari modus operandinya, apakah yang sekarang sama dengan yang lama,” ucap Kepala Badan Reserse dan Kriminal Inspektur Jenderal Ito Sumardi. Menurut Ito, apabila modus yang digunakan sama, maka ada kemungkinan operasi pembobolan kembali dilakukan oleh mereka.

“Namun kami masih mengembangkan (keterkaitan mafia Rusia),” tandasnya.

Di Bali, sejumlah korban yang melapor ke kepolisian terkait kasus ini antara lain: Robert Allen – Rp55 juta (BCA), Richard Lewis – Rp18,5 juta (BCA), Sueca – Rp8,5 juta (BCA), Yudiyono – Rp34 juta (BCA), Lili Suryani – Rp145 juta (BCA), Wilhelmina Bia Migirayo – Rp19 juta (BCA), Grace Ellen Simon – Rp 15 juta (BCA), Ika Nuriali – Rp8,5 juta (BCA), Helena Brau Buo – Rp27 juta (Permata), Dario – Rp 46 juta (Permata), NN – Rp 11,5 juta (Permata), Wayan Siplin – Rp13,2 juta (BNI), Ketut Sri Wardani – Rp 30,1 juta (BNI), Nyoman Sureni – Rp30 juta (BNI).

Berkait dengan kasus ini, pihak Bank Indonesia menghimbau nasabah untuk mengganti PIN secara berkala sebagaimana telah diingatkan oleh pihak bank selama ini. Berikut ini beberpa beberapa tip lain menghindarkan diri dari pembobolan rekening via ATM:

1. Lindungi kerahasiaan PIN dengan tidak memberitahukannya kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang tampak seperti petugas bank.
2. Tutup dengan tangan saat memasukkan PIN di ATM sehingga PIN tidak dilihat oleh pihak lain.
3. Perhatikan kondisi fisik ATM dan sekililingnya. Apabila ada hal-hal yang mencurigakan, jangan gunakan ATM tersebut. Segera laporkan kondisi tersebut kepada pihak bank terdekat dan atau kepada pihak berwajib.
4. Pada saat bertransaksi menggunakan kartu ATM / Debit pada merchant / toko yang bekerja sama dengan pihak perbankan, perhatikan kondisi alat EDC (Electronic Data Capture). Bila terdapat alat yang mencurigakan menempel pada EDC, urungkan transaksi dan segera laporkan kepada pihak bank terdekat atau kepada pihak berwajib.
5. Segera lakukan pemblokiran Kartu ATM, jika kartu ATM anda hilang dengan menguhubungi via telpon atau datangi kantor cabang penerbit kartu tersebut.
6. Gunakan Ruang ATM yang benar benar aman dan jauh dari orang2 tidak di kenal.
7. Untuk mengacaukan rekaman penjahat, setelah bertransaksi via ATM, masukkan kembali kartu ATM lalu tekan nomor acak dan tekan tombol “cancel”.

Penting:
Modus Pembobolan ATM dan Cara Pencegahannya



Wisata Bali

Warung Lawar Penatih, Bumbu Wangen Tiga Generasi


Oleh: Maria Ekaristi & Agung Bawantara

Warung ini didirikan pada tahun 1957 oleh I Made Pegeg. Mula-mula berupa sebuah warung sederhana disebuah gang yang letaknya tak jauh dari warung yang sekarang. Menu pada saat didirikan adalah lawar godel (sapi muda). Karena lezat dan khas warung milik Pak Pegeg itu langsung ramai pengunjung. Meski demikian, ahli lawar ini tetap bersahaja. Ia tetap bertahan dengan sajiannya yang sederhana dan harganya yang murah. Tapi, kesederhanaan itu justru semakin membuat warung lawar Pak Pegeg menjadi terkenal. Orang-orang menyebutnya Warung Lawar Penatih.

Karena usia yang semakin renta, perlahan-lahan Pegeg menurunkan kemahirannya meracik bumbu kepada putrinya Ni Ketut Ribug, dan kemudian menyerahkan pengelolaan warung itu kepadanya.
Tahun 1982, karena berbagai pertimbangan Ni Ketut Ribug memindahkan lokasi warung beberapa meter di seberang warung yang lama. Pada saat-saat tersebut, selain di warung, penjualan juga dilakukan berkeliling ke tempat-tempat di mana tajen (sabungan ayam) tengah digelar.
Itu berlangsung hingga beberapa tahun lamanya.

Kembali karena pertimbangan usia, Ni Ketut Ribug menurunkan keahlian memasaknya pada putranya, I Wayan Nanu. Sekaligus juga menyerahkan pengelolaan warung itu ke pemuda alumnus Fakultas humum Universitas Udayana tersebut. Di tangan Nanu, warung ini mengalami perubahan menu dari godel menjadi babi dan bebek. Alasannya, karena daging godel semakin sulit didapat dan harganya semakin melangit.

Tahun 1996, Nanu, memindahkan lokasi warung ke lokasi yang ditempati hingga sekarang. Yakni di jalan Padma, Denpasar Utara.

Kini warung sederhana itu sudah berubah menjadi bangunan permanen dua lantai. Di situlah layanan dibuka sejak pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Setiap harinya, warungi itu dikunjungi tak kurang dari 150 pembeli, rata-rata berusia di atas 30 tahun. Menu tetap sampai saat ini adalah : lawar, sate, ares, daging goreng, urutan.

Menurut nanu, rahasia sukses Warung Lawar Penatih ini adalah kesetiaannya menjaga rasa yang kuat dari bumbu wangen.

“Sebagai pewaris, saya berusaha mempertahankan apa yang telah dirintis oleh kakek dan ibu saya,” Papar Nanu.



Wisata Bali