Cerita di Balik Tampilnya Pelopor Heavy Metal, Iron Maiden, di Bali (2)

[ad_1]

Oleh: Hari Puspita

LEPAS dari segala kekurangan dan carut marutnya ekonomi dan politik negeri ini saat ini, untuk urusan industri musik modern, bangsa ini boleh berbangga. Sebagai gambaran sederhana, 4-5 Desember 1975 silam misalnya, Denny Sabri dari majalah musik Aktuil, Bandung, bersama Buena Production sudah mampu menghadirkan super group sekelas Deep Purple, ke Senayan, Jakarta, dengan dibuka oleh God Bless. Purple bukan menggelar konser ke Bangkok, Kuala Lumpur, Manila, Singapura,misalnya.

Setidaknya, pertunjukan 35 tahun silam, dua hari berturut-turut itu, total dihadiri sekitar 150.000 penonton. Yang datang? Tidak hanya dari Jakarta atau kota besar tanah air saja. Tapi juga dari negeri tetangga seperti, Malaysia, Singapure dan Filipina. Malah menurut kesaksian Donny Fattah (pemain bas God Bless) lapangan stadion Senayan (Stadion Gelora Bung Karno, sekarang, Red) , tribun atas, tribun bawah dipenuhi lautan manusia. Malah katanya ada yang sampai menonton di atap stadion juga.

Dan, kini, dalam The Final Frontier World Tour-nya Iron Maiden, Original Productions juga mampu membawanya tur ke Indonesia. Ini untuk dua kali pertunjukan, di Bali dan Jakarta.”Saya sempat dilobi sama temen, salah seorang promotor dari Malaysia. Saya nggak enak menyebut (nama) nya. Dia meminta ke saya, bagaimana agar Iron Maiden juga bisa tampil di Malaysia. Tapi saya nggak bisa bantu,” ujarnya, tentang cerita lain mendatangkan grup bermaskot Big Eddie itu.

“Malah dia (promotor Malaysia) itu sempat bilang, harus keluar uang berapapun ongkosnya dia sanggup bayar. Tapi saya nggak bisa bantu. Bagaimana mau bantu, kalau pihak manajemen Iron Maiden-nya juga tidak tertarik main ke sana?” jelasnya, perihal ketertarikan pihak promotor asal Malaysia, itu.

Tapi, bagaimanapun untuk urusan kepercayaan penyelenggaraan tidak hanya sebatas soal uang saja. Pihak manajemen biasanya begitu ketat menghitung berbagai aspek untuk menentukan tempat konser, yang sekiranya representatif untuk dihelat. Macam yang bakal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, pada 17 Februari dan di Lotus Pond GWK, Jimbaran, 20 Februari mendatang itu.
Untuk ukuran negara-negara Asia Tenggara, Indonesia menurutnya termasuk jadi pilihan utama, bersama Singapura. “Kalau Singapura, itu karena negara maju, negara mapan,” akunya. “Tapi, untuk respons penonton, publik kita ini dikenal dengan kehangatannya saat menikmati konser,” jelasnya.

Lebih jauh, menurutnya untuk mendatangkan super group itu menyangkut banyak aspek. Selain (sudah pasti) soal bayaran, juga kredibiltas penyelenggara dan yang sangat penting selain itu adalah daya tarik tempat pertunjukan. Seperti respons penonton atau aura pertunjukan nantinya.

“Soal kredibilitas itu tidak mudah. Kita ini harus mampu meyakinkan pihak manajemen Iron Maiden agar mereka yakin bahwa pertunjukannya kelak akan mendapat respons yang bagus juga,” terang lelaki penghobi olahraga sepeda ini. “Nah, untungnya negeri kita dikenal dengan fans musik rock yang fanatik juga. Soalnya, Metallica misalnya, sudah membuktikannya,” terangnya, berbangga.

*Tulisan ini sempat dimuat di Harian Radar Bali (Grup Jawa Pos)

[ad_2]
Wisata Bali