Warung Merthasari, Cikal Bakal Menu Pesinggahan

[ad_1]

Oleh: Maria Ekaristi

Telah banyak pemberitaan mengenai Warung Makan “Mertha Sari” ini. Namun dari semua itu nyaris tak ada yang mengabarkan bahwa warung makan yang terletak di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung ini merupakan rumah makan yang menginspirasi puluhan rumah makan di Bali untuk menyediakan paket nasi dengan lauk lempet dan sate languan. Lempet adalah pepes ikan tongkol dengan bumbu khas Bali (baca: Pesingahan). Sedangkan Sate Languan adalah sate lilit berbahan ikan tongkol dengan bumbu dan cara pengolahan yang khas pula. Pada dasarnya bumbu kedua jenis lauk tersebut adalah serupa. Keduanya dibumbui cabai, terasi, garam, bawang merah, bawang putih, gula merah, dan jeruk limau. Pengolahan ikannya pun serupa, sama-sama dilumatkan bersama bumbunya dan di panggang di atas bara. Bedanya, lempet dibungkus dengan daun pisang, sedangkan sate languan dililitkan pada batang yang terbuat dari pelepah kelapa atau bambu.

Di Warung Makan Mertha Sari, lempet dan sate languan dihidangkan untuk menemani seporsi nasi putih bersama sayur kacang panjang berbumbu kalas, sup ikan berbumbu rempah, sambal matah, dan kacang tanah goreng. Semua hidangan tersebut memiliki cita rasa yang saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Karenanya, akan terasa ada sesuatu yang kurang jika satu di antara hidangan tersebut tidak tersaji.

Warung Makan Mertha Sari sendiri berada di sisi timur Desa Pesinggahan, sebuah desa yang berdekatan dengan beberapa kampung nelayan seperti Kusamba, Goa Lawah dan Wates. Cukup mudah untuk menemukannya. Dari Kuta, letaknya sekitar 45 kilometer ke arah timur. Dengan mobil berkecepatan sedang, melalui jalan by pass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, anda membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Ancar-ancarnya, begitu tiba di kampung nelayan Kusamba, teruslah ke arah timur menuju obyek wisata Goa Lawah. Sekitar tujuh menit dari situ, anda akan menjumpai pertigaaan dengan penunjuk jalan yang cukup terlihat. Ada juga di sekitar situ papan nama “Warung Mertasari Pesinggahan” terpampang cukup mencolok. Berbeloklah ke kiri dan melaju ke utara sekitar 500 meter, anda sudah menemukan warung menu ikan yang kondang itu.

Suasana warung itu cukup nyaman. Namun beberapa tamu merasakan sedikit gerah. Mungkin pada saat-saat tertentu cuaca di daerah pantai memang terasa menyengat. Ketika datang, saya sendiri merasakan suasana warung dengan bangunan terbuka dan berada di areal dengan puluhan pohon nyiur itu, cukup menyenangkan.


Areal warung makan dibagi menjadi dua. Areal utama berukuran besar dan terdapat 17 balai-balai bambu yang dirancang bagi tamu yang senang makan dengan posisi duduk bersila. Sedangkan areal satunya lagi berukuran lebih kecil, terletak lebih di tengah. Di sana terdapat beberapa meja dan kursi untuk para tamu yang lebih menyukai makan bertatakan meja sebagaimana di restoran-restoran pada umumnya.

Sekadar menunjukkan cukup terkenalnya warung makan makan ini, Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan beberapa selebriti ibu kota pernah singgah di ikon desa pesinggahan ini. Sayang sekali saya tak bisa menuliskan lebih banyak mengenai pemilik Warung Mertha Sari ini. Informasi yang saya miliki sekadar bahwa rumah makan ini didirikan oleh Ibu Wayan Joni pada tahun 1996. Soalnya, ketika saya bertanya mengenai riwayat rumah makannnya, dia mengatakan bahwa sudah banyak wartawan yang menulis tentang itu. Barangkali Bu Wayan sedang lelah karena sangat sibuk melayani tamu-tamu yang berjubel di warungnya.

[ad_2]
Wisata Bali